Era Digital? cakap saja tidak cukup, pola pikir pun harus tepat

Saat ini tanpa terasa berbagai aspek dalam keharian kita telah tersentuh oleh teknologi digital. Perubahan ini dengan cepat direspon dengan meningkatnya kemampuan dan keahlian seseorang dengan berbagai perangkat digital dan berbagai aplikasinya. Kita semakin familiar dengan benda benda ini. Apakah hal ini cukup?

Seringkali kita sebenarnya tidak terlalu menyadari bahwa sentuhan teknologi digital ini tidak cuma mempengaruhi hal-hal praktis penguasaan alat teknologi saja. Digital secara cepat dan pasti telah mempengaruhi cara dan kebiasaan kita berinteraksi dengan orang lain, dan juga dengan data dan informasi, telah terjadi demokratisasi baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari. Dengan berubahnya berbagai kebiasaan, nilai-nilai, identitas dan hal lainnya, tentu dibutuhan berbagai penyesuaian dalam pola pikir (mindset) sehingga tidak terjadi kegaduhan dan kebingungan. Seperti apa mindset yang paling pas di era digital?

Digital mindset sebenarnya jauh lebih luas cakupannya dari sekedar kehandalan dan minat pada teknologi serta kecakapan dalam mengelola misalnya berbagai smartphone dan aplikasi populer seperti facebook, twitter dan instagram. Ini merupakan serangkaian perilaku seseorang dalam menghadapi situasi penuh perubahan yang terjadi di era digital.

Seseorang yang memiliki pola pikir digital akan mengerti akan berbagai konsekuensi yang terjadi dalam hal demokratisasi, percepatan dan peningkatan interaksi dan tindakan dengan orang lain, baik dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

perubahan yang disebabkan oleh teknologi digital. Memilik pola pikir digital artinya kita telah siap dan terbiasa menerima berbagai perubahan dan dampaknya, dan mengadopsi dengan biasa saja, tanpa gejolak.

Mindset yang tampaknya perlu dibangun dan dikembangkan di era serba transparan ini adalah yang disebut Abundance Mindset yaitu pola pikir yang memiliki semangat keterbukaan, adanya keinginan untuk berbagi dan membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dan penuh apresiasi. Pola pikir seperti ini akan mendapat porsi lebih besar dan tentu memudahkan seseorang dalam bisnis maupun kegiatan sehari-hari.

Di lain pihak kebalikan dari Abundance Mindset adalah Scarcity Mindset atau pola pikir berkekurangan yang percaya bahwa segala sesuatu tidak akan pernah tercukupi, apapun itu, baik hal materil seperti makanan, uang maupun hal hal yang bersifat emosional, seperti keinginan, kegembiraan dan sebagainya. Mindset ini cenderung membuat seseorang untuk menumpuk, menyimpan dan menutup rapat rapat apa yang dimiliki dan tidak punya keinginan untuk berbagi. Hal ini membuat sesorang dengan pola pikir seperti ini sulit berkembang, terlebih di era ini.

Mindset lainnya yang juga akan menjadi sangat penting di era digital adalah Growth Mindset yaitu pola pikir untuk selalu berkembang. Sesorang dengan pola pikir growth ini akan mencurahkan energinya untuk selalu mencari dan mempelajari hal baru, melihat tantangan baru dalam kehidupan.

Terbukanya akses informasi secara drastis dan meningkatnya interaksi dengan orang lain, mau tidak mau memaksa kita untuk membuka diri dan rela untuk menerima perbedaan. Kesiapan dan kerelaan untuk menerima perbedaan inilah salah satu kunci keberhasilan lain yang dibutuhkan untuk hidup di era digital ini.

Millian Ikhsan
Partner at Asture Solutions